Habib Rizieq Shihab Lembut Tanpa Main Sikat

 

Revolusi Akhlaq
Dakwah Amar Makruf
Oleh Taufiq Hartono

(Pemerhati Masalah Agama dan Kemasyarakatan)

10 Nopember 2020 kali ini jatuh di hari Selasa. Hari yang akan dicatat besar-besar oleh tinta sejarah keumatan dan kebangsaan di republik ini, hingga ke depan nanti. Launching gerakan Revolusi Akhlaq lalu seolah berjalan begitu saja. Berjalan secara alamiah, mengikuti titah Allah SWT Yang Maha Perencana. Imam Besar umat Islam, Habib Rizieq Shihab kembali pulang. Umat yang rasa rindunya kepada HRS sudah tak tertahankan itu, tumpah ruah ribuah, menyemuti dan memutihkan bandara Soeta di Jakarta. Tanpa diagendakan, bahkan tanpa dibayangkan sebelumnya.

Perhelatan ‘launching’ Gerakan Revolusi Akhlaq ini terjadi sendiri. Kalau pertemuan umat Islam yang sedahsyat itu mesti dianggarkan, kira-kira akan memakan beaya berapa? Sungguh, tak bisa saya bayangkan. Ribuan umat yang mendatangi bandara bagai air bah itu tak ada yang mendanai. Mereka datang dengan uang mereka sendiri-sendiri. Bahkan saudara-saudara dari Madura ada yang datang di Jakarta dengan berjalan kaki dari kampung halamannya sejak tanggal 4 Nopember 2020, enam hari lalu. Mereka datang karena cinta. Mereka sangat mencintai pemimpin mereka yang berjuang menegakkan amar makruf dan nahi munkar secara ikhlas karena Allah semata. Maka hari ini adalah momentum hebat, yang hendaknya bisa dijadikan tonggak sejarah sebagai awal hari diberlakukannya Gerakan Revolusi Akhlaq. Selasa Kliwon, 10 Nopember 2020, bertepatan dengan 24 Rabi’ul Awwal 1442 Hijriyah.

Versus Manusia Hasad

Jika semula ada orang yang sudah menyiapkan ‘sikat’ untuk menyikat kerusuhan, orang ini nampaknya harus gigit jari. Sebab umat yang cinta damai tidak akan mematahkan ranting atau menginjak rerumputan, apalagi sampai melahirkan kerusuhan (seperti yang bisa jadi justru ia harapkan terjadi, hingga punya alasan untuk benar-benar menyikat. Tapi ternyata tidak). Maka mungkin saja, mukanya harus ia selamatkan dan ia lipat baik-baik, lalu ia simpan di lemari es agar tetap terlihat segar dan tegar. Jika tadinya ada orang yang melontarkan fitnah bahwa Imam Besar Habib Rizieq Shihab dideportasi karena over stay, orang ini pun harus menyabarkan dirinya sendiri. Sebab ludah yang sudah ia muntahkan di dulang rasanya tidak mungkin ia jilat lagi dengan lidahnya sendiri. Padahal itu harus ia lakukan. Mengapa begitu? Karena Imam Besar ternyata bersih dan jernih dari segala tuduhan dan tak ada yang bisa membuktikan kalau beliau bersalah. Ludah sendiri itu menjijikkan, bukan?

Dari sini saya kok lantas teringat ada ayat Allah SWT yang menegaskan begini:

وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلٰكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذٰلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِآيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ

Dan kalau saja Kami mau, sungguh Kami tinggikan derajatnya dengan ayat-ayat itu. Tapi dia cenderung kepada dunia dan memperturtkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing. Jika kamu menghalaunya dijulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia menjulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. (Q.S. Al-A’raaf, 7: 176).

Revolusi Akhlaq

Kata ‘akhlaq’ di sini sengaja saya tuliskan dengan menggunakan akhiran huruf ‘q’ dan bukan ‘k’ demi mengembalikan kepada kata dan makna asalnya yaitu ‘akhlāq’ (أخلاق) yang merupakan kata jamak dari kata ‘khalqu’ atau ‘khulqu’ (خلق) yang berarti pembuatan, penciptaan, makhluk, fitrah, naluri atau pembawaan, tabiat, budi pekerti, kebiasaan, dan agama (Ahmad Warson Munawwir, Kamus Arab-Indonesia, 1997, hal. 364).

Dengan dasar demikian, sebenarnya yang dimaksudkan oleh kata akhlaq adalah: “Sifat, sikap, atau perangai dasar yang seharusnya dimiliki oleh manusia sesuai dengan tujuan penciptaan dirinya atas fitrah kemanusiaannya sendiri ketika mengikuti dan menaati hidayah agama ciptaan Allah.” Jadi akhlak bukan hanya sekedar moral, morality, kesantunan, atau budi pekerti yang maknanya sangat sekuler dan dangkal. Maka atas dasar pengertian akhlaq yang sekualitas inilah Rasulullah SAW sampai pernah mengatakan: “Innamaa bu’its-tu li-utammima makaarima-l-akhlaaqi,” tidaklah aku ini diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlaq -yang mulia- belaka (Musnad al-Bazzar, 15/364, no. 8949, dari Abiu Hurairah r.a.).

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًا فِطْرَتَ اللهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللهِ ذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ وَلٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ 

“Maka hadapkanlah wajahmu secara lurus kepada agama Allah ini! (Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah (penciptaannya) itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah (yang sedemikian). (Itulah) agama yang lurus itu. Tapi kebanyakan manusia tidak tahu.” (Q.S. Ar-Ruum, 30: 30).

Jelas sekali dalam ayat ini dihubungeratkan antara agama, penciptaan fitrah atau azali kemanusiaan dan akhlaq seperti yang Allah inginkan. Moralitas Barat masih mengabsahkan dansa-dansi sembari minum arak. Tapi akhlaq menentangnya, sebab ‘tradisi’ begitu merusak kesejatian dan kemanusiawian manusia itu sendiri. Kesantunan di Papua masih membolehkan lelaki mengenakan koteka. Namun konsepsi akhlaq melarangnya, sebab akhlaq adalah standar kemanusiaan yang lebih mulia, yakni busana sempurna sebagai penutup aurat. Jika moralitas, kesantunan, atau budi pekerti hanya merupakan ‘busana’ dunia semata, konsepsi akhlaq adalah ‘busana’ dunia dan akhirat. Seorang lelaki Muslim yang sudah berpakain rapi dengan jas dan dasi sudah dianggap sopan dan terhormat di hadapan khalayaknya. Tapi itu belum cukup berakhlaq ketika akan menunaikan shalat, sebab dia harus lebih dulu menyempurnakan ‘busana’nya dengan berwudlu. Moral atau kesopanan itu hanya dunia. Sedang akhlaq adalah dunia dan akhirat. Dalam konteks inilah, seorang pujangga kenamaan Mesir, Ahmad Syauqi (1870-1932), pernah menuliskan sederet syairnya begini:

إِنَّمَا الأُمَمُ الأَخْلاَقُ مَا بَقِيَتْ ¤ فَإِنْ هُمْ ذَهَبَتْ أَخْلاَقُهُمْ ذَهَبُوْا

“Sungguh bangsa-bangsa itu bisa tegak berdiri hanya dengan akhlaq (yang mulia). Jika akhlaq mereka hilang, maka hancurlah mereka.”

Saya lantas membayangkan Imam Besar terinspirasi hal-hal di atas ketika memastikan tema Revolusi Akhlaq (yang membuat ngeri orang-orang bengkok) sebagai fokus perjuangan beliau ke depan. Cuma saya tidak tahu yang mana persisnya. Apakah karena ayat di atas yang tentang fitrah, atau lantaran pemahaman makna akhlaq yang sedemikian dalam itu, atau karena hadits Nabi soal tujuan pokok perutusan beliau untuk membenahi akhlak manusia, atau jangan-jangan malah dilatarbelakangi oleh potongan syair Ahmad Syauqi yang terakhir ini. Namun di atas semuanya, yang pasti, Rasulullah SAW membangun umat manusia ini dengan lebih dulu menunjukkan kemuliaan akhlak beliau. Dengan uswah hasanah yang terlihat nyata, terang benderang, dan bisa dilihat oleh setiap orang, baik kawan atau pun lawan.

Pilihan Narasi Cerdas

Itulah Revolusi Akhlaq. Ketika para tikus suka di kegelapan got dan gorong-gorong, pelita yang cemerlang nan mencerahkan dihadirkan. Tikus-tikus itu pun bubar sendiri, dengan ketakutan yang mereka buat sendiri. Dengan menahan dada-dada yang sesak karena harus menanggung rasa malu.

Saya lalu teringat ada sepenggal kisah yang pernah terjadi pada ekspedisi Fathu Makkah. Ini terjadi pada tahun ke-8 Hijrah pada tanggal 10 Ramadhan. Ekspedisi ini dipimpin langsung oleh Rasulullah SAW dengan 10.000 Sahabat. Berangkat dari Madinah, demi menundukkan kota Makkah. Dalam kitab al-Jaami’ al-Shahiih li al-Sunan wa al-Masaaniid, karya Syaikh Shahib Abdul Jabbar (vol. 15, hal. 64), kisah itu dituturkan bagaimana sangat takut dan gelisahnya Abu Sufyan bin Harb (si tokoh kafir Quraisy) ketika melihat sepuluh ribu obor menyala dari arah timur Makkah, tepatnya di kampung Marr azh-Zhahran. Nampaknya Rasulullah SAW sendiri yang memerintahkan para Sahabatnya untuk menyalakan obor mereka masing-masing. Dalam keadaan ketakutan begitu, datanglah Sa’d bin Ubadah seraya berbisik di dekat telinganya, “al-yauma yaumul-malhamah. Al-Yauma yaumun tustahallu al-Ka’batu” (hari ini pastilah hari di mana darah-darah ditumpahkan. Hari ini pastilah hari di mana Ka’bah dibebaskan). Abu Sufyan pun menimpali, “Seumur-umurku belum pernah aku melihat api membara sebegitu hebatnya.” Maka pada pagi harinya ia pun mencari-cari Nabi SAW. Di hadapan beliau, akhirnya Abu Sufyan (yang amat ganas itu) bersyahadat, masuk Islam.

Fathu Makkah itu adalah gerakan damai. Tidak seranting pun patah. Tidak sedaun pun gugur. Tapi orang-orang Quraisy Makkah sendiri yang terkesiap menyaksikan marwah Islam yang ditunjukkan oleh Rasulullah dan para Sahabatnya, hingga mereka berbondong-bondong memeluk Islam. Maka turunlah surat an-Nasr, “Idzaa jaa-a nashrullaahi wal-fath, wa ra-aitan naasa yadkhuluuna fii diinillaah afwaajaa” (apabila kemenangan itu sudah datang dan kamu menyaksikan orang-orang masuk ke dalam agama Allah berbondong-bondong).

Saya pun melihat adanya kemungkinan itu, sekarang. Bagaimana Jakarta bergemuruh namun khidmat. Bagaimana suasana ‘adem’ itu turun bersama kedatangan Imam Besar di negeri ini kembali. Luapan umat yang sedemikian membludak dan kompak, yang tanpa merusak, dan tidak juga onar. Semua tertib dan disiplin. Namun justru marwah, wibawa, dan keperwiraan seperti inilah yang membuat orang-orang yang tidak suka jadi klepek-klepek. Diam seribu basa dan tak berani berkutik lagi.

Harapan

Di hari Selasa, 10 Nopember 2020 ini umat Islam telah memenangkan pertarungan di bawah pimpinan Imam Besar Habib Rizieq Shihab. Kebesaran itu tak perlu dibuat-buat. Beliau tidak akan menggigit, menggebuk, apalagi menyikat. Sebab dengan keikhlasan yang benar-benar hanya karena Allah, kebesaran itu akan besar sendiri. Biarkan saja, musuh itu terkapar terkena knock down kebaikan dan kemuliaan, lalu tak bisa omong besar lagi. Mulut mereka telah terkunci karena keagungan dan kemuliaan akhlaq sang Imam dan para pengikutnya. In syaa Allah.

Revolusi Akhlaq itu memang harus segera kita nyalakan bersama. Masjid-masjid yang terus bergerak dan menggerakkan. Umat Islam yang terus saling bahu-membahu satu dengan lainnya. Dakwah amar makruf dan nahi munkar harus terus kita giatkan secara berlipat. Gas pol! Sebab janji Allah pun sudah tegas dan jelas, “Ada pun orang-orang yang berjihad di jalan-Ku, pastilah Aku tunjukkan kepada mereka jalan-jalan-Ku” (Q.S. Al-‘Ankabuut, 29: 69).

Rumah Armasta,

Temanggung, 10 Nopember 2020

 

           

 

 

 

   

 

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *