Prosesi Syafaat di Padang Mahsyar

Prosesi Syafaat di Padang Mahsyar

Prosesi Pemberian Syafaat di Padang Mahsyar
Photo By Google
Taufiq Hartono

(Pemerhati Masalah Agama dan Kemasyarakatan)

Pengantar

 

Prosesi pemberian syafaat di padang Mahsyar masih sangat perlu terus dikajikan. Bahkan lebh dari itu, sifatnya adalah harus. Tulisan berikut adalah kutipan dan terjemahan saya dari Kitab Shahih Bukhari, juz 9, halaman 129, no. 7439. Menerjamahkan secara baik, benar, dan tepat tentu tidak mudah. Oleh karena itu saya cantumkan teks matan haditsnya, agar jika ada kekeliruan dalam penerjemahan saya bisa dikoreksi oleh yang lebih tahu.

Kemudian, agar alur penerjemahannya bisa juga diikuti secara runut dan perlahan, hadits Imam Bukhari yang sangat panjang ini saya bagi per beberapa baris, saya sesuaikan dengan potongan-potongan maknanya. Semoga bisa diikuti dengan mudah.

Untuk sekedar perlu dan menegaskan sebagian maknanya, saya juga memberikan ulasan ringkas pada hadits ini. Dengan demikian saya berharap hadits yang murni dari Rasulullah SAW ini lebih bisa dipahami secara mudah dan utuh.

Jika hanya menginginkan Surga, Allah SWT pasti memberikan, asal seseorang hamba masih punya iman sekecil apa pun yang dibawanya sampai mati. Namun begitu, iman minimal demikian hendaknya tidak dijadikan capaian maksimal, melainkan modal dasar yang baik demi meraih peringkat iman yang lebih tinggi lagi, syukur dengan modal itu bisa diraih peringkat iman yang paling sempurna. Semoga demikian.

Sanad

 حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ، حَدَّثَنَا اللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ، عَنْ خَالِدِ بْنِ يَزِيْدَ، عَنْ سَعِيْدِ بْنِ أَبِي هِلاَلٍ، عَنْ زَيْدٍ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ، عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ

“(Imam Bukhari memberitakan:) kami diberitahu Yahya bin Bukair, kami diberitahu Laits bin Sa’d, dari Khalid bin Yazid, dari Sa’id bin Abi Hilal, dari Zaid, dari ‘Atha’ bin Yasar, dari Abu Sa’id al-Khudri.”

Ulasan

Hadits ini juga dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam kitab “At-Ta’līqāt al-Hassan ‘alā Shahīh Ibni Hibbān,”  juz 10, halaman 376, no. 7333.

Melihat Allah di Padang Mahsyar

قَالَ: قُلْنَا يَا رَسُوْلَ اللهِ هَلْ نَرَى رَبَّنَا يَوْمَ القِيَامَةِ؟ قَالَ: «هَلْ تُضَارُوْنَ فِي رُؤْيَةِ الشَّمْسِ وَالقَمَرِ إِذَا كَانَتْ صَحْوًا؟» قُلْنَا: لاَ، قَالَ: «فَإِنَّكُمْ لاَ تُضَارُوْنَ فِي رُؤْيَةِ رَبِّكُمْ يَوْمَئِذٍ، إِلَّا كَمَا تُضَارُوْنَ فِي رُؤْيَتِهِمَا»

“Ia (Sa’id al-Khudri) mengatakan: “Kami bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah kita akan melihat (Allah) Tuhan kita di hari kiamat?” Beliau bersabda: “Apakah kalian merasa sulit dalam melihat matahari dan bulan apabila dalam keadaan cerah?” Kami menjawab: “Tidak.” Beliau bersabda: “Sungguh kalian tidak akan kesulitan dalam melihat Tuhan kalian pada saat itu, kecuali (hanya) seperti sulitnya kalian dalam melihat keduanya.”

Ulasan

Terlihat kecerdasan Rasulullah SAW dalam mengajarkan materi yang berat dengan contoh yang sederhana, hingga para Sahabat bisa memahaminya dengan mudah.

Hadits ini bisa dijadikan sandaran yang kuat bahwa manusia kelak benar-benar akan diberi kesempatan untuk melihat Allah Tabāraka wa Ta’ālā.

Mencari Tuhan Masing-masing

ثُمَّ قَالَ: يُنَادِي مُنَادٍ: لِيَذْهَبْ كُلُّ قَوْمٍ إِلَى مَا كَانُوْا يَعْبُدُوْنَ، فَيَذْهَبُ أَصْحَابُ الصَّلِيْبِ مَعَ صَلِيْبِهِمْ، وَأَصْحَابُ الْأَوْثَانِ مَعَ أَوْثَانِهِمْ، وَأَصْحَابُ كُلِّ آلِهَةٍ مَعَ آلِهَتِهِمْ، حَتَّى يَبْقَى مَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللهَ مِنْ بَرٍّ أَوْ فَاجِرٍ، وَغُبَّرَاتٌ مِنْ أَهْلِ الكِتَابِ، ثُمَّ يُؤْتَى بِجَهَنَّمَ تُعْرَضُ كَأَنَّهَا سَرَابٌ

“Kemudian beliau bersabda: “Lalu (akan ada) Penyeru menyerukan: “Setiap kelompok kaum agar pergi menuju apa yang dulunya pernah mereka sembah!” Maka para pengikut Salib pergi bersama salib mereka, para pengikut berhala (pergi) bersama berhala-berhala mereka, dan pengikut setiap tuhan (pergi) bersama tuhan-tuhan mereka, sampai tersisa mereka yang dulunya menyembah Allah, baik yang para pembakti atau pendosa, dan orang-orang yang terdahulu dari Ahli Kitab. Kemudian didatangkan (di hadapan mereka) neraka Jahannam yang dihamparkan, seolah dia adalah fatamorgana.”

Yahudi-Nasrani Langsung ke Naraka

فَيُقَالُ لِلْيَهُوْدِ: مَا كُنْتُمْ تَعْبُدُوْنَ؟ قَالُوْا: كُنَّا نَعْبُدُ عُزَيْرَ ابْنَ اللهِ، فَيُقَالُ: كَذَبْتُمْ، لَمْ يَكُنْ لِلّٰهِ صَاحِبَةٌ وَلاَ وَلَدٌ، فَمَا تُرِيْدُوْنَ؟ قَالُوْا: نُرِيْدُ أَنْ تَسْقِيَنَا، فَيُقَالُ: اِشْرَبُوْا، فَيَتَسَاقَطُوْنَ فِي جَهَنَّمَ، ثُمَّ يُقَالُ لِلنَّصَارَى: مَا كُنْتُمْ تَعْبُدُوْنَ؟ فَيَقُوْلُوْنَ: كُنَّا نَعْبُدُ الْمَسِيْحَ ابْنَ اللهِ، فَيُقَالُ: كَذَبْتُمْ، لَمْ يَكُنْ لِلّٰهِ صَاحِبَةٌ، وَلاَ وَلَدٌ، فَمَا تُرِيْدُوْنَ؟ فَيَقُوْلُوْنَ: نُرِيْدُ أَنْ تَسْقِيَنَا، فَيُقَالُ: اِشْرَبُوْا فَيَتَسَاقَطُوْنَ فِي جَهَنَّ

“Lalu ditanyakan kepada orang-orang Yahudi: “Apakah yang dulunya pernah kalian sembah?” Mereka menjawab: “Kami menyembah Uzair Putra Allah.” Lalu dikatakan: “Kalian bohong! Allah tidak punya kawan, tidak juga anak. Sekarang apa yang kalian inginkan?” Mereka menjawab: “Kami ingin Engkau memberi kami minum.” Lalu dikatakan: “Silakan, minumlah kalian!” Maka berjatuhanlah mereka ke neraka Jahannam. Kemudian dikatakan kepada orang-orang Nasrani: “Apakah yang dulunya pernah kalian sembah?” Mereka menjawab: “Dulu kami menyembah Almasih Putera Allah.” Lalu dikatakan: “Kalian bohong! Allah tidak punya kawan, tidak juga anak. Sekarang apa yang kalian inginkan?” Mereka menjawab: “Kami ingin Engkau beri kami minum.” Lalu dikatakan: “Silakan, minumlah kalian!” Maka berjatuhanlah mereka ke neraka Jahannam.”

Ulasan

Orang-orang Yahudi dan Nasrani di padang Mahsyar nanti benar-benar akan mati kutu, langsung di hadapan Allah. Bahkan Allah Sendiri yang akan menvonis mereka berdusta atas pilihan mereka atas Uzair dan Yesus sebagai tuhan mereka. Karena itu mereka tidak dihisab dan akan langsung berjatuhan ke neraka. Andai saja mereka mau bertaubat sejak sekarang (?)

Kelompok Penyembah Allah

حَتَّى يَبْقَى مَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللهَ مِنْ بَرٍّ أَوْ فَاجِرٍ، فَيُقَالُ لَهُمْ: مَا يَحْبِسُكُمْ وَقَدْ ذَهَبَ النَّاسُ؟ فَيَقُوْلُوْنَ: فَارَقْنَاهُمْ، وَنَحْنُ أَحْوَجُ مِنَّا إِلَيْهِ اليَوْمَ، وَإِنَّا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي: لِيَلْحَقْ كُلُّ قَوْمٍ بِمَا كَانُوْا يَعْبُدُوْنَ، وَإِنَّمَا نَنْتَظِرُ رَبَّنَا، قَالَ: فَيَأْتِيْهِمُ الْجَبَّارُ فِي صُوْرَةٍ غَيْرِ صُوْرَتِهِ الَّتِي رَأَوْهُ فِيْهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ، فَيَقُوْلُ: أَنَا رَبُّكُمْ، فَيَقُوْلُوْنَ: أَنْتَ رَبُّنَا، فَلاَ يُكَلِّمُهُ إِلَّا الْأَنْبِيَاءُ

“Hingga tersisa orang-orang yang dulunya menyembah Allah dari (kalangan) pembakti atau pendosa. Lalu dikatakan kepada mereka: “Apakah yang menahan kalian di sini sedang orang-orang sudah pergi?” Mereka menjawab: “Dulunya kami memisahkan diri dari mereka, dan kami adalah orang-orang yang paling membutuhkan pada (pentingnya) hari ini, dan kami mendengar (ketika) seseorang penyeru menyerukan: “Setiap kelompok kaum hendaklah menemui apa saja yang dulunya mereka sembah, dan kami hanyalah menunggu Tuhan kami.” Rasulullah lalu bersabda: “Maka (Allah) Al-Jabbar mendatangi mereka dalam Rupa tidak seperti Rupa yang mereka melihat-Nya pertama kali, dan Allah akan berfirman: “Akulah Tuhan kalian.” Orang-orang ini lalu mengatakan: “Engkau Tuhan kami? Maka tidak akan ada yang bisa berbicara kepada-Nya selain para Nabi.”

Ulasan

Mukmin yang sebenar-benarnya adalah yang orang yang berani menjadikan ‘Hari Perjumpaan’ dengan Allah ini sebagai tumpuan hidup dan matinya. Demi meraih keselamatan pada ‘Hari Perjumpaan’ ini apa pun akan ia korbankan.

Kalimat فارقناهم (kami memisahkan diri dari mereka) dalam hadits ini menunjukkan prinsip itu. Keberanian ‘memisahkan diri’ dari ketidakbenaran, dosa, atau maksiat adalah pilihan wajibnya (meski kemudian akan dicap ‘ora umum,’ tidak populer, atau dibully banyak orang), demi mengamankan posisi selamat di hadapan Allah sejak di padang Mahsyar ini.

Sujud Menghadap Betis Allah, Siksaan Bagi Yang Riya’

فَيَقُوْلُ: هَلْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُ آيَةٌ تَعْرِفُوْنَهُ؟ فَيَقُوْلُوْنَ: اَلسَّاقُ، فَيَكْشِفُ  عَنْ سَاقِهِ، فَيَسْجُدُ لَهُ كُلُّ مُؤْمِنٍ، وَيَبْقَى مَنْ كَانَ يَسْجُدُ لِلّٰهِ رِيَاءً وَسُمْعَةً، فَيَذْهَبُ كَيْمَا يَسْجُدَ، فَيَعُوْدُ ظَهْرُهُ طَبَقًا وَاحِدًا،

“Rasulullah lalu bersabda: “Apakah kalian mengenali satu tanda (yang membedakan) antara kalian dan Dia?” Mereka menjawab: “Betis!” Seraya Allah menyingkapkan Betis-Nya, maka bersujudlah kepada-Nya setiap Mukmin, hingga tersisa orang-orang yang dulunya bersujud kepada Allah hanya karena pamer dan pujian. Mereka lalu pergi untuk bersujud seperti orang-orang itu bersujud, tapi punggungnya selalu kembali tegak bagaikan sebuah papan (hingga tidak bisa membungkuk).”

Ulasan

Allah SWT akan menyingkapkan Betis-Nya di hadapan para hamba-Nya yang Mukmin, yang shalat-shalatnya mereka tegakkan dengan sebenar-benar ikhlas karena-Nya. Pada saat itulah orang-orang Mukmin ini akan tersungkur dan bersujud menghadap ke arah Betis-Nya.

“Ya Allah, berikanlah kesempatan emas yang indahnya tak terperi ini kepadaku, isteri, anak, dan Sahabat-sahabat ngajiku! Āmīn, yā Allah. Āmīn, yā Rabb!”

Saya pun tak bisa membayangkan orang-orang yang menjalankan shalat hanya karena riya’, pamer, atau pencitraan. Punggung mereka akan mengeras jadi papan hingga tak bisa bersujud. Rasa malu dan sesalnya akan seperti apa? Belum lagi siksanya, sebab telah membohongi Allah.

Ash-Shiraath, Jembatan Paling Mengerikan

ثُمَّ يُؤْتَى بِالْجَسْرِ فَيُجْعَلُ بَيْنَ ظَهْرَيْ جَهَنَّمَ، قُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَمَا الْجَسْرُ؟ قَالَ: مَدْحَضَةٌ مَزِلَّةٌ، عَلَيْهِ خَطَاطِيْفُ وَكَلاَلِيْبُ، وَحَسَكَةٌ مُفَلْطَحَةٌ لَهَا شَوْكَةٌ عُقَيْفَاءُ، تَكُوْنُ بِنَجْدٍ، يُقَالُ لَهَا: السَّعْدَانُ، اَلْمُؤْمِنُ عَلَيْهَا كَالطَّرْفِ وَكَالْبَرْقِ وَكَالرِّيْحِ، وَكَأَجَاوِيْدِ الْخَيْلِ وَالرِّكَابِ، فَنَاجٍ مُسَلَّمٌ، وَنَاجٍ مَخْدُوْشٌ، وَمَكْدُوْسٌ فِي نَارِ جَهَنَّمَ، حَتَّى يَمُرَّ آخِرُهُمْ يُسْحَبُ سَحْبًا

“Lalu didatangkan jembatan, seraya dibentangkan di antara dua tepi Jahannam.” Kami bertanya: “Wahai Rasulullah, jembatan ini bagaimana?” Beliau bersabda: “Jalan licin yang menggelincirkan. Di atasnya (beramukan) galah-galah panjang yang di ujung-ujungnya ada pengait-pengait besi dan (menempel padanya) duri-duri yang keras, tajam, dan lebar, yang juga ada duri-duri bengkok seperti (pohon duri) yang ada di Nejd, yang bernama Sa’dān. Mukmin yang melintas di atasnya ada yang (cepatnya) seperti kedipan mata, ada yang seperti kilat, ada yang seperti angin, ada yang seperti berlarinya kuda balap terbaik, ada yang seperti berlarinya kuda pembawa barang. Maka ada yang selamat benar-benar selamat, ada pula yang selamat dengan tercabik-cabik, serta ada yang langsung terlempar ke dalam neraka Jahannam. Orang terakhir akan melintasinya dengan diseret-seret secara keras.”

Ulasan

Membayangkang titian (ash-Shiraath) ini saja sudah sangat menakutkan. Ketika itu pasti terjadi nanti, saya tidak berani memastikan akan termasuk golongan manusia yang mana.

Ash-Shirāth akan memberitahukan kualitas iman setiap orang yang mengaku dirinya Mukmin. Termasuk klasifikasi yang mana? Terus terang, saya merasa sangat ngeri.

“Ya Allah, tolonglah kami, isteri, anak, dan Sahabat-sahabat ngaji kami! Āmīn, yā Allah. Āmīn, yā Rabb!”

Syafaat Oleh dan Untuk Sahabat

فَمَا أَنْتُمْ بِأَشَدَّ لِي مُنَاشَدَةً فِي الْحَقِّ، قَدْ تَبَيَّنَ لَكُمْ مِنَ الْمُؤْمِنِ يَوْمَئِذٍ لِلْجَبَّارِ، وَإِذَا رَأَوْا أَنَّهُمْ قَدْ نَجَوْا فِي إِخْوَانِهِمْ، يَقُوْلُوْنَ: رَبَّنَا إِخْوَانُنَا، كَانُوْا يُصَلُّوْنَ مَعَنَا، وَيَصُوْمُوْنَ مَعَنَا، وَيَعْمَلُوْنَ مَعَنَا، فَيَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى: اذْهَبُوْا، فَمَنْ وَجَدْتُمْ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالَ دِيْنَارٍ مِنْ إِيْمَانٍ فَأَخْرِجُوْهُ، وَيُحَرِّمُ اللهُ صُوَرَهُمْ عَلَى النَّارِ

“Kalian nanti tidak bisa menentangku secara mati-matian tentang kebenaran ini, (karena) sudah sangat jelas bagi kalian (untuk melihat) kedudukan seseorang Mukmin terhadap (Allah) Al-Jabbār pada hari itu nanti. Kalau mereka sudah merasa bahwa diri mereka telah selamat, tidak seperti saudara-saudara mereka, mereka akan berkata: “Wahai Tuhan kami, bagaimana dengan saudara-saudara kami itu? Mereka shalat bersama-sama kami, mereka berpuasa bersama-sama kami, dan mereka bekerja bersama-sama kami.” Maka Allah akan berfirman: “Pergilah kalian! Siapa saja yang kalian dapati, yang di hatinya ada seberat dinar dari iman, keluarkanlah dia!” dan Allah mengharamkan tubuh-tubuh mereka terhadap neraka.”

Ulasan

Hanya Sahabat-sahabat Jannah yang bisa saling memberikan syafaat, hingga bisa mengetantaskan dari neraka ke Surga. Mereka ini adalah orang-orang yang ikhlas bersahabat karena Allah dan hanya berharap untuk memperoleh ridha-Nya semata.

“Ya Allah, tolonglah aku untuk bisa menolong Sahabat-sahabatku jika aku pantas melakukannya! Namun tolonglah mereka agar bisa menolongku jika keadaanku memang harus ditolong! Tapi adakah?”

Sekecil Iman Yang Menyelamatkan

فَيَأْتُوْنَهُمْ وَبَعْضُهُمْ قَدْ غَابَ فِي النَّارِ إِلَى قَدَمِهِ، وَإِلَى أَنْصَافِ سَاقَيْهِ، فَيُخْرِجُوْنَ مَنْ عَرَفُوْا، ثُمَّ يَعُوْدُوْنَ، فَيَقُوْلُ: اِذْهَبُوْا فَمَنْ وَجَدْتُمْ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالَ نِصْفِ دِيْنَارٍ فَأَخْرِجُوْهُ، فَيُخْرِجُوْنَ مَنْ عَرَفُوْا، ثُمَّ يَعُوْدُوْنَ، فَيَقُوْلُ: اذْهَبُوْا فَمَنْ وَجَدْتُمْ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ مِنْ إِيْمَانٍ فَأَخْرِجُوْهُ، فَيُخْرِجُوْنَ مَنْ عَرَفُوْا، قَالَ أَبُوْ سَعِيْدٍ: فَإِنْ لَمْ تُصَدِّقُوْنِي فَاقْرَءُوْا: ﴿إِنَّ اللهَ لاَ يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا ﴾

“Maka mereka mendatangi saudara-saudaranya itu, (di mana) sebagian (tubuh) mereka ada yang sudah tidak nampak sampai di kakinya, dan (ada pula yang tidak nampak) sampai pertengahan betisnya. Maka mereka mengeluarkan (dari neraka) siapa pun yang mereka kenali kemudian kembali lagi. Kemudian Allah berfirman (lagi): “Pergilah kalian! Siapa saja yang kalian dapatkan di hati hatinya seberat setengah dinar (dari iman), maka keluarkanlah dia!” Maka mereka keluarkan siapa pun yang mereka kenali, kemudian mereka kembali lagi. Allah pun berfirman: “Pergilah kalian! Maka siapa saja yang kalian dapatkan di hatinya ada seberat biji sawi dari iman, maka keluarkanlah dia!” Lalu mereka mengeluarkan siapa saja yang mereka kenali.” Abu Sa’d mengatakan: “Kalau kalian tidak percaya, kalian bacalah: “Sungguh Allah tidak menganiaya (amal perbuatan yang) seberat bisi sawi pun. Jika dia adalah kebaikan, Allah pasti melipatgandakan pahalanya” (Q.S. An-Nisaa’, 4: 40).

Ulasan

Sekecil apa pun iman akan sangat membantu dan menyelamatkan. Sayangnya tidak banyak teman yang suka berbagi dalam hal-hal begini. Sementara perkara ini akan sangat menentukan.

Syafaat Allah Memindah Ahli Neraka ke Surga

فَيَشْفَعُ النَّبِيُّوْنَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَالْمُؤْمِنُوْنَ، فَيَقُوْلُ الْجَبَّارُ: بَقِيَتْ شَفَاعَتِي، فَيَقْبِضُ قَبْضَةً مِنَ النَّارِ، فَيُخْرِجُ أَقْوَامًا قَدِ امْتُحِشُوْا، فَيُلْقَوْنَ فِي نَهَرٍ بِأَفْوَاهِ الْجَنَّةِ، يُقَالُ لَهُ: مَاءُ الْحَيَاةِ، فَيَنْبُتُوْنَ فِي حَافَتَيْهِ كَمَا تَنْبُتُ الْحِبَّةُ فِي حَمِيْلِ السَّيْلِ، قَدْ رَأَيْتُمُوْهَا إِلَى جَانِبِ الصَّخْرَةِ، وَإِلَى جَانِبِ الشَّجَرَةِ، فَمَا كَانَ إِلَى الشَّمْسِ مِنْهَا كَانَ أَخْضَرَ، وَمَا كَانَ مِنْهَا إِلَى الظِّلِّ كَانَ أَبْيَضَ، فَيَخْرُجُونَ كَأَنَّهُمُ اللُّؤْلُؤُ، فَيُجْعَلُ فِي رِقَابِهِمُ الْخَوَاتِيْمُ، فَيَدْخُلُوْنَ الجَنَّةَ، فَيَقُوْلُ أَهْلُ الجَنَّةِ: هَؤُلاَءِ عُتَقَاءُ الرَّحْمٰنِ، أَدْخَلَهُمُ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ عَمَلٍ عَمِلُوْهُ، وَلاَ خَيْرٍ قَدَّمُوْهُ، فَيُقَالُ لَهُمْ: لَكُمْ مَا رَأَيْتُمْ وَمِثْلَهُ مَعَهُ

“Para nabi, malaikat, dan orang-orang Mukmin pun memberikan syafaat. Allah (Al-Jabbar) pun berfirman: “Tinggallah kini syafaat-Ku.” Digenggam-Nya neraka dengan sekali genggam. Maka keluarlah penduduk neraka itu berbondong-bondong dalam keadaan hangus, lalu mereka dilemparkan ke dalam sungai di mulut-mulut Surga, nama sungai itu adalah Air Kehidupan. Mereka lalu bertumbuh di kedua tepinya seperti tumbuhnya biji benih di genangan air yang mengalir, yang kalian bisa melihatnya di tepian batu atau di samping pohon. Jika tumbuhan itu terpapar sinar matahari, dia berwarna hijau. Jika terlindung dari padanya, dia berwarna putih. Mereka semua keluar sebagaimana mutiara-mutiara, terpasang (pula) di setiap tengkuk mereka cincin-cincin, dan masuklah mereka ke dalam Surga. Para penduduk Surga lalu berkata: “Mereka inilah yang disebut ‘Utaqā-ur-Rahmān (‘budak-budak’ Allah yang dilepaskan). Allah memasukkan mereka ke Surga bukan karena amal yang pernah mereka kerjakan, tidak juga karena kebaikan yang pernah mereka lakukan. Sampai dikatakan kepada mereka: “Untuk kalian semua adalah sejauh mata kalian memandang dan yang serupa itu lagi bersamanya.”

Ulasan

Akhirnya Allah SWT bertindak Sendiri untuk membebaskan para hamba-Nya dari neraka ke Surga-Nya. Namun demikian, siapa pun kita, pastilah tidak berharap masuk dalam kelompok mereka ini. Āmīn.[]

Penutup

Prosesi pemberian syafaat di padang Mahsyar nampaknya perlu dikajikan secara baik. Ia akan sangat ideal untuk dijadikan goal-setting oleh setiap orang, justru agar di dunianya sendiri mendapatkan keselamatan dan keberlimpahan. In syaa Allah.[]

Rumah Armasta, 14042020

[1] Q.S. An-Nisaa’, 4: 40.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *